Rey adalah anak seorang pengusaha tersukses di Indonesia, hidup selalu bergelimpangan harta, disekolahnya rey selalu berlagak karna dia anak pemilik sekolah itu, rey selalu berfoya-foya dengan minum-minuman dan bermain dengan perempuan, umur rey sudah 17 tahun dan akan naik kelas 3 sma.
"Rey sudah besar, rey tidak mau diperintah pa!". Terdengar teriakan yang tak jarang didengar di telinga para penghuni rumah tersebut tapi kata-kata yang terlontar dari mulut rey saat itu sangat jarang terdengar, rey yang setiap hari memarahi pembantunya, memerintah pembantunya kini sudah berani membentak orang tuanya sendiri yang dibalas dengan nada emosi oleh ayah nya sendiri "Baik, jika kamu ga mau mendengarkan kata papa, tapi kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun warisan papa sebelum kamu lulus SMA", rey membalas dengan nada mengejek "papa ga mungkinlah ga memberikan warisan papa ke aku, kalo ga ke aku siapa lagi? Aku anak tunggal papa lo" ayah nya menjawab "tentu saja bisa, papa akan sumbangkan seluruh harta papa ke panti asuhan dan papa sudah menanda tangani surat bahwa jika papa meninggal dan kamu belum menamatkan kuliahmu maka seluruh harta papa akan disumbangkan ke panti asuhan", kata-kata yang membuat rey terdiam beberapa saat dan ayah nya lalu memberikannya sebuah amplop dan berkata "kamu harus tamat dan selama kamu belum lulus, semua kendaraan dan kartu kreditmu papa blokir" rey lantas menjawab dengan nada kesal "kau akan menyesalinya pa!".
Rey pun akhirnya mau tidak mau berangkat dengan bus, terasa panas dan bau, bahkan tak sedikit yang membawa hewan seperti ayam dan itik. Rey sangat tidak nyaman dan jijik karenanya tapi mau tak mau dia menjalaninya. Saat bus telah berhenti dan seluruh penumpang turun rey pun ikut turun membawa barang-barangnya.terdengar gelak tawa anak-anak yang sedang asik bermain di sawah, lapangan kosong, dan ladang dan tampak juga orang tua mereka sedang bekerja disepanjang penglihatan rey. Diperjalanannya rey bertabrakan dengan seorang gadis, lalu rey memarahi gadis itu "punya mata ga sih kamu?! Dasar orang kampung" gadis itupun menunduk dan meminta maaf lalu pergi dengan cepat.
Akhirnya rey pun sampai dialamat yang ada disebuah rumah yang tua namun masih layak huni, rey menyusun barang-barangnya dan terus menggerutu "dasar menyebalkan, mengapa sih semua orang harus semenyebalkan ini". Malam pun telah tiba, karna lelah rey pun langsung tertidur dikamarnya.
Bersambung